Allah Menguji Para ‘Asatizah’

Apabila seseorang itu tinggi ilmunya semakin tinggi gelora cabaran yang akan hadapi. Itulah lumrah ujian kepada para ilmuan. Ilmu diuji dari senegap penjuru ; riak (menunjuk-nunjuk), Sum’ah (mahu disanjung), Ujub (perasan power), sombong (menolak kebenaran hujjah lainnya), dan ujian apakah kita mampu mengamalkan ilmu kita:

Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu amalkan?” [QS. Ash-Shaff : 2]

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” [QS. Al-Baqarah : 44]

Kepada para ‘asatizah’ menara.my kami hulurkan salam perdamaian, berserta rangkap ayat suci di atas. Persoalan kami suka ajukan pada kalian dimanakah etika kalian dalam menulis? Bahkan sikap kalian suka memutar belit kenyataan dan hujah saudara lain dengan tujuan memburukkan, membunuh karekter, juga memenangkan pandangan dengan nafsu amarah itu. Ke mana sikap TABAAYYUN kalian?

Sebagai contoh ; isu Afiq M Noor kalian telah memutar dan memotong bait-bait kata dari ceramahnya. Kemana sikap berkata benar dan jujur kalian terhadap hujah lawan berserta hujah matang dan rasional? Sungguhpun kita tidak bersetuju mengapa harus main kotor dan putar belit?

Para asatizah menara.my juga tidak bertabayyun dengan mana-mana sosok yang mereka ingin serang. Bahkan membunuh sikap moderat, wasatiy dan tabayyun dalam kalangan rakyat jelata dengan provokasi, perkataan-perkataan yang menimbulkan kebencian bukan kasih-sayang sesama muslim, kalimat-kalimat syak wasangka bukan keterangan. Ketahuilah tindakan kalian lebih memecahkan belahkan umat hari ini dari sosok-sosok tertentu yang kalian tuduh “menyimpang”.

Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang fasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian. [al-Hujurât/49:6]

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Jangan pula kalian memata-matai dan saling menggunjing. Apakah di antara kalian ada yang suka menyantap daging bangkai saudaranya sendiri? Sudah tentu kalian jijik padanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha menerima taubat dan Maha Penyayang. [al-Hujurât/49:12]

Dari penyakit ini, syahwat akan meluas dan berkembang penyakit lain yang tidak kalah bahayanya, antaranya kebiasaan berbohong, memutuskan silaturrahim, melakukan hajr (memboikot, mendiamkan), at-tahazzub (kekelompokan), al-walâ` dan al-barâ` (suka dan benci) tidak sesuai tempatnya, bahkan boleh sampai ke tahap saling membunuh. Na’ûdzu billâhi min dzâlik.

Penyakit menggungjing ini tidak akan terubati selama Al-Qur`ân hanya diperlakukan sebagai sekedar ilmu pengetahuan yang dibaca dan dikhutbahkan di mimbar- mimbar, dan tidak menjadikannya sebagai terapi.

 

 

Akhukum Fillah :

Sandal Kawejan Kanjen Nabi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *